Selasa, 23 April 2013

Tinjauan Pustaka PKL



II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Identifikasi Potensi Wilayah
2.1.1 Pengertian Identifikasi Potensi Wilayah
            Identifikasi potensi wilayah adalah kegiatan penggalian data dan informasi baik data sekunder maupun primer yang dilakukan secara partisipatif (BPK Lenteng Sumenep, 2011).
2.1.2 Sumber identifikasi potensi wilayah
a. Data primer diperoleh di lapangan baik dari petani maupun masyarakat yang terkait,
b. Data sekunder dari monografi desa/kecamatan/BPP dan sumber-sumber lain yang relevan. (BPK Lenteng Sumenep, 2011)
2.1.3 Manfaat identifikasi potensi wilayah
a. Tersedianya data dan informasi yang memberikan gambaran akurat mengenai potensi wilayah,
b. Tersedianya data dan informasi yang kelak diperlukan dalam proses pengambilan keputusan baik bagi pengembangan usahatani maupun perancangan kegiatan penyuluhan pertanian (BPK Lenteng Sumenep, 2011)
2.2 Participatory Rural Appraisal (PRA)
2.2.1 Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA)
            Participatory Rural Appraisal adalah suatu metode pendekatan dalam proses pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat  dalam keseluruhan kegiatan pembangunan (Firmansyah, 2013).
Metode PRA merupakan suatu cara yang digunakan dalam melakukan pengkajian, penilaian, penelitian yang bertujuan untuk memahami keadaan atau kondisi desa/wilayah/ lokalitas tertentu dengan melibatkan partisipasi/keikutsertaan masyarakat (BP3K Bambu Runcing Tarakan, 2011).
Pendekatan  PRA bertujuan untuk menjadikan anggota masyarakat sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan, bukan hanya sebagai obyek pembangunan.  Pemberdayaan masyarakat dan partisipasi merupakan strategi dalam paradigm pembangunan yang berpusat pada rakyat (people centry development).  Partisipasi dalam penerapan metode PRA ditujukan kepada keikutsertaan masyarakat dalam proses pembangunan (Firmansyah, 2013).
2.2.2 Prinsip-prinsip Participatory Rural Appraisal (PRA)
            Prinsip-prinsip dalam Participatory Rural Appraisal (PRA) antara lain:
1.    Prinsip mengutamakan yang terbaik
2.    Prinsip pemberdayaan (penguatan) masyarakat
3.    Prinsip masyarakat sebagai pelaku, dan orang luar sebagai fasilitator
4.    Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan
5.    Prinsip santai dan informal
6.    Prinsip triangulasi yaitu pemeriksaan dan pemeriksaan ulang
7.    Prinsip mengoptimalkan hasil
8.    Prinsip orientasi praktis
9.    Prinsip keberlanjutan dan selang waktu
10.  Prinsip belajar dari kesalahan
11.  Prinsip terbuka (Rahman, 2010).
2.2.3 Data-data yang diamati
a.  Data sekunder
b. Data lapangan
c. Data spasial
d. Data yang berkaitan dengan waktu
e. Data sosekbud dan kelembagaan
f.   Data teknis lapangan mengenai sumberdaya alam
g. Data teknis lapangan mengenai kependudukan (BPK Lenteng Sumenep, 2011)
2.2.4 Pendekatan dan metodologi
2.2.4.1 Identifikasi data primer
a. Wawancara semi terstruktur yang digunakan untuk mengkaji sejumlah topic informasi mengenai aspek-aspek kehidupan keluarga petani, yang disusun di dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara ini sifatnya semi terbuka karena hanya merupakan bahan acuan wawancara, yang dapat diubah dan disesuaikan dengan proses diskusi untuk mencapai tujuan kajian. Jenis wawancara semi terstruktur antara lain 1) wawancara individu, 2) wawancara keluarga/rumahtangga petani, 3) wawancara kelompok (petani). (Deptan, 2012)
b. Peta sumberdaya bertujuan untuk mengetahui kondisi desa, khususnya mengenai sumberdaya alam, tataguna lahan, batas wilayah, tata letak sarana dan prasarana, perumahan, dan lain-lain.
c. Sketsa desa yang merupakan penggambaran keadaan masyarakat desa yang dituangkan dalam bentuk sebuah peta sederhana yang dapat dibuat di atas tanah, kertas, maket  sesuai dengan kesepakatan dan ketersedian bahan.
d. Kalender musim bertujuan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan, peristiwa-peristiwa dalam kurun waktu tertentu seperti curah hujan, suhu udara, peta tanam, hama penyakit, tenaga kerja, volume produksi, luas tanam/produksi, dan siklus usaha.
e. Bagan kelembagaan (diagram venn) bertujuan untuk mengetahui: 1) lembaga-lembaga yang ada di masyarakat baik lembaga formal maupun non formal, lembaga pemerintah maupun swasta; 2) hubungan antarlembaga dan dengan masyarakat; 3) keberadaan, peran, dan manfaat lembaga tersebut untuk masyarakat.
f.   Penelusuran wilayah desa (transek) bertujuan untuk mengetahui potensi pemanfaatan sumberdaya alam seperti 1) bentuk dan keadaan permukaan/topografi; 2) jenis tanah dan tingkat kesuburan daerah tangkapan air, sumber air; 3) pemanfaatan lahan; 4) pola usahatani; 5) teknologi setempat.
g.  Bagan perubahan dan kecenderungan bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan keadaan desa, baik perubahan sosial maupun perubahan lingkungan
h. Kajian mata pencaharian, bertujuan untuk memberikan gambaran mata pencaharian masyarakat desa yang dilakukan di desa maupun di luar desa (BPK Lenteng Sumenep, 2011)
2.2.4.2 Identifikasi data sekunder
            Data sekunder dikumpulkan dan diolah untuk mempelajari keadaan desa/wilayah berdasarkan data informasi yang telah ada dalam bentuk tertulis yang dibuat oleh pihak tertentu (dinas/instansi/LSM dan lain-lain) (Deptan, 2011)
            Jenis-jenis data sekunder yang dikumpulkan di antaranya:
a.    Data agroklimat wilayah
b.    Batas wilayah
c.    Kependudukan
d.    Kelembagaan formal dan non formal yang ada di wilayah
e.    Tata guna lahan
f.     Jenis usaha rakyat
g.    Tingkat pendapatan rata-rata
h.    Sarana dan prasarana wilayah
i.      Program-program pembangunan pertanian yang sedang berjalan atau yang pernah dilaksanakan di wilayah
j.      Teknologi yang diterapkan
k.    Data produksi, luasan areal usaha tani, jumlah ternak dan komoditi utama yang dikembangkan di wilayah. (Deptan, 2011)
2.3 Penyuluhan
2.3.1 Pengertian Penyuluhan
………adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.” (UU SP3K, 2006)
                        Penyuluhan pertanian adalah sistem pendidikan di luar sekolah (non formal), bagi petani dan keluarganya agar berubah perilakunya untuk bertani lebih baik (better farming), berusahatani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera (better living), dan bermasyarakat lebih baik (better community) serta menjaga kelestarian lingkungannya (Penyuluh Perikanan Kabupaten Mukomuko, 2012)

2.3.2  Asas, Tujuan, dan Fungsi Penyuluhan
            ” Penyuluhan diselenggarakan berasaskan demokrasi, manfaat, kesetaraan, keterpaduan, keseimbangan, keterbukaan, kerjasama, partisipatif, kemitraan, berkelanjutan, berkeadilan, pemerataan, bertanggung gugat.” (UU SP3K, 2006).
2.3.3 Sasaran Penyuluhan
            Sasaran penyuluhan meliputi sasaran utama dan sasaran antara. Saasran utama penyuluhan meliputi pelaku utama dan pelaku usaha. Sedangkan sasaran antara penyuluhan adalah pemangku kepentingan lainnya yang meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian, perikanan, dan kehutanan serta generasi muda dan tokoh masyarakat. (UU SP3K, 2006)
2.3.4 Materi penyuluhan
            Materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan kemanfaatan dan kelestarian sumberdaya pertanian, perikanan, dan kehutanan.  Materi penyuluhan mengandung unsur pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan modal sosial serta unsur ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, ekonomi, manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan (UU SP3K, 2006).

2.3.5 Metode dan teknik penyuluhan
A. Metode penyuluhan
                        Metode adalah cara yang sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan. Setiap orang “belajar” lebih banyak melalui cara yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dalam menangkap pesan yang diterimanya, ada yang cukup dengan mendengar saja, atau melihat dan juga ada yang harus mempraktikkan dan kemudian mendistribusikannya.   Namun di lain pihak penggunaan kombinasi dari berbagai metode penyuluhan akan banyak membantu mempercepat proses perubahan (Burhanuddin, 2012).
            Suriatna dalam Burhanuddin (2012) menyatakan bahwa menurut pendapat Mounder, metode penyuluhan digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan jumlah sasaran yang ingin dicapai antara lain:
a.    Metode berdasarkan pendekatan perseorangan.  Yang termasuk dalam metode ini adalah: anjangsana, surat-menyurat, kontak informal, undangan, hubungan telepon, magang.
b.    Metode berdasarkan pendekatan kelompok.  Yang termasuk dalam pendekatan kelompok antara lain: ceramah dan diskusi, rapat, demonstrasi, temu karya, temu lapangan, sarasehan, perlombaan, pemutaran slide, penyuluhan kelompok lainnya.
c.    Metode berdasarkan pendekatan missal.  Yang termasuk dalam golongan ini antara lain: rapat umum, siaran melalui media massa, pertunjukan kesenian rakyat, penerbitan visual, pemutaran film.
            Para ahli lain mengolongkan metode penyuluhan berdasarkan teknik komunikasi dan berdasarkan indera penerima sasaran. Metode penyuluhan berdasarkan teknik komunikasi digolongkan menjadi:
a.    Metode penyuluhan langsung yaitu petugas penyuluh melakukan tatap muka langsung dengan dengan sasaran (petani). Contoh: anjangsana, kontak personal, demonstrasi, dan lain-lain.
b.    Metode penyuluhan tidak langsung yaitu pesan yang disampaikan oleh penyuluh tidak dilakukan secara langsung tetapi melalui perantara atau media. Contoh: pertunjukan film, radio, televisi, dan penyebaran bahan tercetak.
            Penggolongan metode penyuluhan berdasarkan indera penerima dibagi menjadi tiga golongan antara lain:
a.    Metode yang dilaksanakan dengan jalan memperhatikan.  Pesan diterima melalui indera penglihatan.  Contoh: penempelan poster, pemutaran film, dan pemutaran slide.
b.    Metode yang disampaikan melalui indera pendengaran. Misalnya siaran pertanian melalui radio, hubungan telepon, serta alat-alat audiotif lainnya.
c.    Metode yang disampaikan, diterima oleh sasaran melalui beberapa macm indera secara kombinasi. Contoh: demonstrasi (didengar, dilihat, diraba), siaran melalui televisi (didengar dan dilihat) (Burhanuddin, 2011).
B. Teknik penyuluhan
            Effendi (1986) menyebutkan bahwa teknik komunikasi dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a.    Teknik komunikasi informatif, yaitu penyampaian pesan yang bersifat memberi tahu atau memberikan penjelasan kepada orang lain.
b.    Teknik komunikasi persuasif yaitu penyampaian pesan yang bertujuan untuk mengubah perilaku sasaran.
c.    Teknik komunikasi koersif yaitu penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan cara mengandung paksaan agar melakukan tindakan atau kegiatan tertentu (Burhanuddin, 2011).


Nama  :           I Ketut Catur Widhi Antara
Kelas   :           Pertanian/IIB
NIRM   :           07.1.2.12.1412

           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar